GASTRONOMY

Parachute, Tempat Santai Baru di Canggu

8:18:00 PM

Jadi, setiap ke Canggu kalo dari Batu Belig, baliho si Parachute ini tuh lumayan gede dan beautifully designed-- cuma cafe nya aja yang belum buka waktu itu. Jadi yaudah nunggu buka aja. Until minggu ini saya reunited sama temen sekaligus partner kerja saya, dan meetingnya di Parachute Bali ini. Dan ternyata bener pas saya tanya sama staff nya, emang baru buka sekitar 3 bulan dan waktu di bulan pertama, mereka cuma serving dinner gitu.


Bangunan
Saya pribadi sih suka banget ya dari segi arsitektur & interior nya, ya. Karena di outdoor nya itu beneran ada parasut aja, dong! (Yaialah, kalo pake kain terpal mungkin namanya jadi beda, gak Parachute lagi). Kalo yang air conditioned room nya, dia deket sama etalase pastry & bakerynya, gitu.




Jadi bisa sambil laptop-an dan kalo mau order minum gitu, langsung panggil staff nya aja. Dominasi nya warna kayu, terus yang saya tangkep sih ada mood industrial nya sedikit di bagian depan sama toilet nya. Spacey banget, semua sudut dipergunakan dengan maksimal untuk seating; dari depan, belakang, samping, indoor nya juga ada.

Makanan dan minuman
Karena saya meeting nya pagi-pagi, saya baru cobain pastry dan bakery nya aja. Saya cobain cheese toast nya (IDR 15). Buat saya yang suka keju sih ini enak banget, ya. Soalnya keju nya nggak pelit aja gitu. Terus bagelnya (IDR 15) juga enak dan bisa pilih spread nya. Karena lagi-lagi saya keju-sentris, saya pilih yang veggie cream cheese (IDR 20). Jadi ada kaya wortel nya gitu di spread nya kalo nggak salah. Mereka juga serving dinner juga, kalo kapan kesini lagi malem gitu, mau banget nyicipin dinner menunya. Kayanya enak-enak juga.


Kalo minumannya saya baru cobain iced coffee sama whole coconut. Nggak tau sih mereka pake bean apa, tapi rasanya sih pas pas aja ya buat saya iced coffeenya (IDR 35). Whole coconut (IDR 30) nya, ya basic kaya coconut di tempat lain. Cuma di Parachute ini dikasih jeruk nipis gitu diatas kelapanya. Nggak tau sih itu buat pemanis aja ato gimana, tapi jeruk nipisnya saya peres ke dalem kelapa biar makin enak.

Koneksi internet & level of nomadic-worker-friendly
Karena saya pekerja lepas, koneksi internet tentunya lumayan mandatory, ya. Karena kadang bete juga kalo tiba-tiba internetnya lemot dan endingnya saya tethering pake handphone sendiri. Internetnya stabil, kok. Kalo mau laptop-an disini juga bisa. Cuma kalo emang perlu colokan itu ada di indoor. Walaupun menurut saya emang ini lebih buat tempat makan, tapi lumayan bisa jadi alternatif untuk laptop-an, kok. Karena di outdoor juga ada beberapa yang laptop-an.

Customer service
Ini yang membuat tercengang, sih. Saya kan salah parkir, ya. Terus ada staff dan minta kunci motor saya (yang notabene motor matic). Saya pikir kenapa, oh ternyata salah parkir. Terus dipindahin aja dong motor saya ke tempat parkir yang sebenernya itu di depan. Terus dibalikin kunci motornya. Berasa valet parking tapi level motor matic. And for me, this small thing does matters, anyhow.



Staff-staff yang lain juga friendly banget. Baru didepan udah di-greet dan senyumnya nggak dibuat-buat gitu. Oh and one thing. Saya sempet nanya toiletnya dimana, terus kayanya ada Mas ini mungkin managernya. Saya dianterin ke toiletnya, dong. Me likey!

Parachute Bali
Jl. Subak Sari 13 No.8-4, Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, Bali 80361

DAILY

Digital Nomad Friendly Café di Bali

3:07:00 PM

Sebagai seorang desainer grafis dan pekerja lepas, kadang kalo lagi bosen kerja di (balkon) kamar di Ubud, café selalu jadi opsi yang bagus untuk ganti suasana. Karena saya orangnya agak bolang, jadi nggak cuma di Ubud aja nongkrong di café nya, kadang ke Canggu, kadang ke Denpasar, dan kadang ke Sanur. Berdasarkan tingkat intensitas saya mampir ke café-café ini, berikut adalah rekomendasi café yang pekerja-lepas-friendly yang bisa dicoba di daerah Bali Selatan & Bali Tengah.


Rou Coffee & Coworking Space
Tinggal di Ubud, tapi ngopi sampe ke Canggu. Biasanya itu respon beberapa temen pas nanya rekomendasi coffee shop di daerah Selatan. Sebenernya waktu itu, saya ketemu tempat ini tuh di Search tab di Instagram. Tempat nya bersih dan rapi banget! Ternyata setelah mencari tahu, yang punya adalah orang Jepang (sekarang terjawab kenapa café nya bersih banget), nikah sama orang Bandung dan mereka menetap di Bali.



Dari nama nya “Rou Coffee & Coworking Space”, tempatnya emang bisa digunakan sekalian sebagai coworking space, cuma tinggal pesen makanan atau minuman (dan makanannya pun enak enak banget!), udah bisa langsung wifi-an, deh. Dari awal kesini, saya selalu suka sama Iced Coffee nya, apalagi yang Gayo single origin. Saya bukan coffee expert, sih. Tapi entah kenapa, racikan nya pas aja gitu di lidah. Dan saking seringnya ke Rou pas akhir tahun lalu, saya sampe jadi kenal mereka sekeluarga! Sampai akhir April kemarin malah saya sampe bikin workshop bikin ilustrasi mandala di Rou.


Rou Coffee & Coworking Space
Jl. Umalas Klecung 2, Gang Pandawa no. 8A, Kerobokan


Dharma Coffee & Juice
Coffee shop ini relatif baru di area Ubud. Karena saya tinggal di Jl. Sri Wedari, jadi relatif deket karena coffee shop ini letaknya ada di daerah Sanggingan, tepat di depan Bintang Supermarket. Selain karena deket dari tempat tinggal, Matcha Latte nya enak banget sih buat lidah saya.

Karena deket sama tempat tinggal & nyaman, jadi nggak sempet foto serius. Ini nyaplok dari Insta Stories sendiri. Mohon maklum, ya..

Soalnya setelah nyicipin Matcha Latte di tempat lain, di Dharma Coffee ini lah saya nemuin bubuk Matcha nya mixed really well, jadi nggak ada bubuk ngegumpal gitu. Selain itu juga, Kefir nya juga enak dan Iced Coffee nya juga pas rasanya. Tapi kalo kesini, I am surely up for their Matcha Latte & Kefir.


Dharma Coffee & Juice
Jl. Sanggingan, Ubud (depan Bintang Supermarket)


Kopi Kultur at Rumah Sanur
Iya. Jadi ada tempat di dalam tempat istilahnya. Rumah Sanur sendiri nama lengkapnya tuh “Rumah Sanur Creative Hub”. Karena emang tempat ini fokus di kegiatan-kegiatan kreatif untuk teman-teman di Bali. Mostly Rumah Sanur ini bikin workshop, dan sepenglihatan saya hampir setiap malam mereka ngadain live music. Juga mereka sering bikin event performance arts, kadang gratis dan kadang berbayar terjangkau. Terus kalo Kopi Kultur nya sendiri itu adalah kedai kopi yang letaknya di ujung depan area Rumah Sanur.


Waktu itu mulai sering ke Rumah Sanur karena ada beberapa klien di Denpasar dan daerah Selatan, jadi daripada bolak balik ke Ubud, mendingan stay di Sanur aja karena kemana-mana durasi perjalanannya relatif sama. Terus lama-lama jadi makin sering dan kenal sama barista-barista nya, dari barista nya gondrong sampe akhirnya potong rambut semua. Di Kopi Kultur sendiri sih saya suka Iced Coffee nya, ya. Sama akhir-akhir ini lagi suka pesen Iced Ginger Tea sama Brownies nya karena selain Brownies nya manis nya pas, harganya terjangkau.


Rumah Sanur Creative Hub
Jl. Danau Poso No.51A, Sanur, Denpasar Selatan


9/11 Café & Concept Store
Sebenernya udah tau tempat ini dari pas pertama kali saya tinggal di Bali. Cuma waktu itu agak terintimidasi karena arsitektur nya bagus banget, takutnya justru style fine dining. Eh ternyata enggak. Vibe nya youth banget, internet OK, Iced Coffee dan ternyata, pekerja-lepas-friendly karena sepengamatan saya, cukup banyak eksekutif muda dan anak kuliahan laptop-an di 9/11.


Kopi nya OK, latte nya OK, tapi kalo disini favorit saya lebih ke Lime Mojito nya. Manis sama asem nya pas aja di mulut. Sama, terakhir ke 9/11 itu saya nyobain Crunchy Donut nya dan astaga, enak banget. Crunchy nya pas. Cuma sadar lagi nggak boleh banyak makan manis manis, pinggang nyaris off side nih soalnya.


9/11 Café & Concept Store
Jl. Teuku Umar Barat No.337, Padangsambian, Denpasar

GASTRONOMY

Tirta Tawar's Soft Gem: Warung Made Becik

7:00:00 PM

It was mid-day when I entered Raya Ubud, randomly trying to drive myself to a smaller road towards Jalan Tirta Tawar, hoping to find a good yet quiet restaurant, because as we know that Ubud is all about organic delicacies & healthy sweet tooth. So it’s pretty good for those who are concern about what they eat.


I personally prefer to visit a place that is not getting too commercialised by online platform like TripAdvisor, then I found this quiet restaurant accidentally when I slow down my bike, located right in the middle of Jalan Tirta Tawar. It caught my eyes because the interior feels pretty homey, structured by colored terracotta bricks.



I went in and I was greeted by a pretty young crew, and what I saw was, the crews are all female. There were only me as a guest. It was quiet, accompanied with Balinese instrumental melody playing behind, and I hope it’s not too early to judge that Bali has never fail to amaze me by how nice the locals are.

My first impression of the foods were amazing. I ordered these gado-gado (Indonesian-style salad) & coconut juice on my first visit. The taste is everything, man. It was so delicious, knowing that they are using local sugar instead of processed sugar. And yes, I am pretty concerned about their ingredients because I like observing these kind of stuffs while I am at the right place. So, yeah!


Another thing that is captivating is. They recycle their food components. For example, they are serving young coconut. But what they are doing with the outer layer of the coconut is, they collect it all and put it across the restaurant and they make it dry. Later I asked the crew, they are using the dried coconut as wood replacement to make the fire, and they’re using it to make the satay. Pretty cool, huh?


Until today, this place has been my regular place to visit every time I’m going back to the center of the island. Foods are great as they offered lots of plant-based delicacies on the menu list. As an additional, this warung (small restaurant-bahasa Indonesia) has some chillin’ Balinese instrument accompanied with Ubud mid-day delicate breeze.

GASTRONOMY

Moody Morning at Asagao

11:45:00 AM

It was a quiet yet bright morning when I start my day. As I usually working away on Friday, me and my working partner (her name is Alin, and I guess she’s going to be happy if I mentioned her name here) are willing to look for is there any good coffee shop to finish our tasks. So yeah, we decided to go to Asagao Coffee Shop that is located in Northern Serpong.


I personally arrived at 10 AM so there was no customers yet, I guess. So yeah, it was a pretty good first impression at this Japanese themed coffee shop. They put the whole menu at the front of the space in a squared looking blackboard, nicely done with cute chalk illustration as well.


As I arrived here, they still put the Christmas theme and I had my ecstatic moment looking at the mini Christmas tree they put as a gimmick in each tables and I found it that it’s pretty cute at the moment. The space itself is pretty narrow, but there’s an interesting space where the sunlight comes in and it creates a nice shadow, complete with industrial like space finishing.

I had an iced Americano at first. And I can say that they create a pretty good coffee. Eventhough I can taste the acid but when I put some portions of sugar, it blended pretty well. Meanwhile my friend had her Hot Latte, and I had the chance to sip hers. The latte are pretty well blended, yet just a bit slushy but so far it tastes good.

As the time flies and I think I need additional companion, I ordered their signature menu, the Kori Kohi. Kori Kohi is basically a glass of coffee milk. But the coffee is modified into numbers of ice cubes form, and a glass of milk in another glass. What you can do is to pour the milk towards the coffee cube and mix it well until the coffee cube melted. And surprisingly it was pretty good as well.

Basically, me and Alin loved this place as we stayed around 6 hours finishing our tasks and the crews were quite nice. Good music, good ambience, good pillows, good mini Christmas tree as well. Oh, I was thinking to bring one of them home, though. But no. Better not.

GASTRONOMY

Dua Cipete

10:59:00 AM

Satu lagi coffee shop baru di daerah Cipete. Akhirnya nyempetin diri untuk mampir kesini. Pertama kali liat tuh di salah satu food blog, dan yang menarik perhatian saya itu justru di ornamen kain NTT warna indigo yang jadi elemen interior yang menurut saya cukup dominan disitu. Tempatnya itu, di Deket 7/11 Cipete terus belok kiri. Udah. Disitu. Dipojok itu. Ada tulisan House of Relax, udah deh parkir disitu aja. Tempatnya cukup mungil, sih. Tapi menurut saya sendiri tempatnya jatohnya jadi homey. Soalnya banyak bantal bantal dengan visual yang menarik, pun.


Disini saya pesen Latte nya. IDR 28 saja. Lumayan lebih ekonomis dibanding coffee shop lain tanpa nurunin kualitas latte nya sendiri. Pas pas aja kok rasanya. Terus yang lucu tuh sebenernya gelas nya. Soalnya bentuk gelasnya disesuaikan dengan bentuk pegangan tangan gitu. Dan setelah saya cari tau, ternyata gelasnya tuh dapet dari seniman di ISI Yogyakarta. Not to mention that the baristas are beyond friendly pas saya mau minta izin untuk ngambil foto. Terus barista yang tinggi brewokan (yang saya lupa tanya namanya haha) itu ngajakin ngobrol ngobrol. Jadi tambah dapet mood homey nya. Cocok buat ber 2-3 ngobrol2 sama temen gitu.

--

Dua Cipete
Jl. Cipete Dalam No. 2, Fatmawati, Jakarta

GASTRONOMY

Pagi Pagi di Rubiaceae

4:48:00 PM

As usual, kalo lagi libur tuh saya justru bangun lebih pagi daripada di hari biasa. Nggak tau kenapa. Nah, yaudah deh. Mending pagi nya dibikin produktif aja sekalian; dan emang ada beberapa kerjaan yang harus diselesaiin, sih. Tapi kalo biasanya pagi pagi pilihan saya jatoh ke Grande Iced Coffee nya Starbucks, kali ini coba yang lain, deh.

Namanya Rubiaceae Artisans Coffee. Tau ini pertama kali ngeliat pas ngeliat temen lagi browsing Zomato, terus saya kepoin gitu. Dan justru yang menarik buat saya tuh namanya. Rubiaceae. Which means saya udah pernah denger istilah itu dulu pas jaman SMP kelas 1 ato 2, mata pelajaran biologi. Inget gak sih, pelajaran Binomial Nomenklatur? Penamaan organisme makhluk hidup dengan cara ngambil nama genus sama species nya? Agak lupa sih tapi kira-kira begitu. Nah, tumbuhan kopi ini dia termasuk dalam kategori Rubiaceae. Kira-kira begitu. Sedikit banyaknya kalo saya salah, boleh langsung di Google aja :”D



Tempatnya tuh di Radio Dalam, dari 7/11 Radio Dalam masih sanaan lagi sedikit, di deket Jalan Yado, sederetan ruko sama Sushi Tengoku. Nah pasti nemu, deh (khatam bener ya, berasa anak Jaksel banget gue). Jadi saya kesini tuh jam 10 pagi. Masih kosong. First impression, rapi banget tempatnya. Terus saya di greet sama 2 cewek yang ternyata itu barista nya. Later, saya baru tau kalo di Rubiaceae ini crew nya semua cewek. Kebayang gak tuh cewek-cewek ngangkat galon dispenser? They must be lines of strong girls gak sih? Terus disitu saya mesen Iced Americano aja udah, kok. Worth my penny, kok. IDR 35, Iced Americano nya asem nya pas, kok. Yang penting saya nggak sendawa dan nggak kentut aja pas kerja heheh.





Nah besides from the coffee, yang pengen saya review itu interior nya yang menurut saya rapi banget. Jadi tuh ada 2 lantai. Lantai 1 sama lantai 2. Dan menurut saya gede nya pun standar, nggak yang alaihimgambreng gede gitu pun enggak. Tapi tata letak interior nya itu menurut saya pinter aja untuk dibikin jadi spacey. Plus, the whole color palettes are very calming dengan sentuhan unfinished wall yang palet nya itu mostly akromatis. Lalu di lantai 2 ini juga enak banget. Di depannya ada kaca gede yang menurut sotoy nya saya letak bangunan ini menghadap ke timur. Jadi kalo pagi itu matahari nya terang banget masuk ruangan gegara si kaca gede itu dibuka lebar lebar. Enak, sih. Pengen balik lagi nanti. Mungkin akan ngajak temen-temen buat ngobrol haha hihi ato ngerjain kerjaan kerjaan lainnya.

--

Rubiaceae Artisans Coffee
Jl. Radio Dalam Raya No. 11C, Pondok Indah, Jakarta 12140

GASTRONOMY

Yellow Flower Cafe Ubud

5:18:00 PM

Untuk kesekian kalinya ke Ubud, nggak pernah sekalipun saya pernah tau tempat ini, karena emang bentuk fisiknya nggak terlihat dari jalan raya. Dan kalau nggak jalan-jalan keliling Ubud sama Samantha, Saknia sama Rimas juga, mungkin gak akan pernah tau.


Namanya Yellow Flower Cafe. Tapi, pas on the way kesini pun saya kaya nggak tau bakal diajak ngapain sama 3 cewek ini. Tetiba Sam parkirin mobil aja gitu di Jalan Raya Penestanan, terus kita ber 4 turun nyusurin jalan. Sampe ketemu footsteps banyak tinggi gitu. Nah jadi untuk nemuin foot steps menuju Yellow Flower Cafe ini tuh, dia dari Museum Antonio Blanco agak naik lagi sedikit. Pelan pelan aja tanya orang and... Voila. Ketemu, kok.

Step by step naikin tangga.. Agak tinggi dia. Dan terus pas udah sampe diatas nih, ikutin signage kayu aja yang ada tulisan Yellow Flower Cafe. Nggak akan nyasar, kok. Karena sepenglihatan saya, yang bentukannya cafe diatas situ ya cuma itu. Dan daerah diatas itu dipergunakan sebagai "sanctuary", tempat meditasi dan tempat yoga juga. Dan jalan setapak menuju cafe nya pun bagus banget. Sampe ya, saluran air atau yang biasa kita kenal dengan "got" nya pun bersih. Serius, saya sampe nyemplungin ibu jari kaki ke got nya. Dan beneran manusiawi got nya.


Nah yaudah tuh. Sampai di cafe nya. Jeng jeng. Emang segmentasi pasar berbicara, sih. Kami ber 4 emang keliatan kaya turis banget, even yang asli Bali cuma Saknia aja; saya gak itung Sam sama Rimas ya karena logat mereka terlalu ibukota :P. Tapi emang pengunjung cafe nya ini tuh kaya orang-orang yang bermukim di sanctuary sekitar situ. Jadi memang lebih banyak elderly berpostur tubuh kurus, tirus, dan berkulit halus.


Nah, menu nya disini mayoritas plant-based; atau bahasa lebih umumnya: vegetarian. Dan karena saya udah lumayan khatam kalo di tiap makan di Ubud tuh porsi nya emang upsized jadi porsi perut-perut manusia Kaukasia. Jadi ya itu pun kami jam 3 sore kesitu dan saya sendiri pesan smoothie bowl namanya Mellow Yellow, yang smoothie nya terdiri dari banana, turmeric, pineapple, topped with granola, dan segala macem alaihimgambreng apapun yang kalian bisa lihat di foto. Emang sih itu keliatannya, "Ah cuma buah, ah cuma jus kental..", tapi coba aja pas ngabisinnya penuh effort, loh. Makanya no wonder para pelaku vegan di Ubud itu bisa kenyang dengan pola makan mereka ya itu tuh begitu. Porsinya sehat, dan pastinya bersahabat untuk tubuh.

--

Yellow Flower Cafe
Penestanan/Campuhan Steps, Penestanan,
Ubud, Gianyar, 80570

GASTRONOMY

KRoMA

6:00:00 PM

Jadi, ada satu lagi coffee shop baru di daerah Gandaria. Namanya KROMA. Sebenernya sih brand KROMA itu sendiri udah ada awalnya dari brand laptop case buat Macbook gitu. Dan yang punya ini nggak lain dan nggak bukan adalah senior saya di kampus yang hobi nya berantem mulu sama saya, namanya Evelyn Gasman (tapi saya manggilnya sih Epeh, ya) dan pacarnya. Agak kaget juga sih yang berawal dari laptop case, malah massive upgrade jadi coffee shop begini. Which is a good news, though.


Yang pengen saya bahas dari KROMA ini tuh sebenernya dari tempatnya, sih. Tempatnya ini unik. Di container gitu. Dan since pacarnya Epeh ini lulusan Arsitektur, then the magic happens. Langsung aja datang buat lihat gimana bentuk cafe nya. Although sebetulnya tempatnya (lumayan) kecil untuk dibilang cafe, sih. Tapi somehow I feel the coziness juga kalau lagi nggak rame, since I'm a fan of a not-so-crowded coffee shop as well.

But even though I spent lots of times in coffee shop, technically I don't do coffee at all. Lambung saya terlalu cupu untuk secangkir kopi, soalnya. So instead of coffee, I do lots of tea. Paling banter Latte. Nah kalau disini, saya dibuat jatuh cinta sama Red Velvet Latte nya. Rasanya udah. Pas. Gitu aja. Nggak terlalu manis, dan nggak terlalu pahit juga. Terus juga, karena saya orangnya agak nomadic dalam perkara menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan saya, one good wifi on a cafe is a plus for me. And here, the wifi speed is unquestionable as well.

-

KROMA
2nd Floor Container No. 57A, Jl. Gandaria I, DKI Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12130.
Instagram: @kroma.id

GASTRONOMY

Kopi Manyar

12:30:00 AM


"Maaf Mas, kalau udah selesai nanti gelasnya tolong dirapikan, ya. Disini self service soalnya", kalimat dari seorang barista yang membangunkan mood saya pagi itu, sambil mikir, "I think I'm gonna love this place."

Sebenernya udah pengen ke Kopi Manyar karena emang deket banget dengan rumah dan tempat kerja saya. Alamatnya pun udah tau. Tapi permasalahannya adalah, ini coffee shop tapi nggak kaya coffee shop. Nggak ada signage atau apa. Mau tahu kenapa? Silakan tanya langsung Pak Andra Matin. Karena saya sendiri pun nggak tau kenapa (nggak ngejawab, ya?)

Iya, jadi tempatnya itu emang beneran kaya rumah biasa. Like, nothing extraordinary from the outside. Tapi pas masuk, wow. It's a huge wow like I stares every corners of it. Emang otaknya Pak Andra Matin ini unquestionable. Keren banget interior nya yang di dominasi kayu & warna putih. Very neat, minimal yet very sleek.



Pertama kali kesini saya karena nganter teman kerja untuk take away hot latte. Nah dari temen kerja saya ini akhirnya baru tau deh letak persis nya. Lalu untuk yang ke dua, saya pergi sama gym bro saya, Indra. Tapi karena sudah agak malam, saya cuma pesan Iced Tea aja. Lanjut saya buka laptop saya sambil kerja, dan Indra saya kacangin sebentar. Oh ya untuk harganya, standar harga coffee shop, I had one nice Green Tea Latte for IDR 34.5. Pretty cool.

Lalu setelah saya selesai kirim email kesana-sini, kami beranjak ke bawah cafe yang ternyata ada pameran rumah Pak Andra Matin. Jadi seperti pameran maket rumah yang pernah Pak Andra kerjakan selama ini. Dan lagi, di dominasi warna putih. Everything's are so neat. I wonder if I could live in one of those masterpieces.

--

kopi manyar
Jalan Bintaro Tengah Blok O2 No. 14, Pesanggrahan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12330
Instagram: @kopimanyar